Example floating
Example floating
Berita

Inspirasi Cinta Al-Qur’an di Tengah Kehidupan Minoritas

353
×

Inspirasi Cinta Al-Qur’an di Tengah Kehidupan Minoritas

Sebarkan artikel ini

Inspirasi Cinta Al-Qur’an di Tengah Kehidupan Minoritas

TOBASA – LENSABIDIK.COM

Di sebuah desa kecil di Toba Samosir, Sumatera Utara, hidup seorang anak bernama Muhammad Sajjad Abqary. Ia adalah anak ketiga dari empat bersaudara, lahir dari pasangan Indra Fauza dan Ana Rasidah yang hidup dalam kesederhanaan. Hidup di lingkungan minoritas, di mana hanya ada sekitar 10 keluarga muslim, tidak menghalangi keluarga ini tetap teguh menanamkan nilai-nilai agama kepada anak-anak mereka.

Sejak usia dini, Sajjad telah diperkenalkan pada Al-Quran oleh orang tuanya. Bahkan, ketika masih di taman kanak-kanak, Sajjad sudah mulai belajar mengenal huruf-huruf hijaiyah. Orang tua Sajjad tidak hanya mengandalkan pendidikan agama dari luar rumah, tetapi juga rutin mengaji bersama keluarga di rumah, termasuk dengan kakaknya.

Di usianya yang baru tujuh tahun dan duduk di kelas satu MIN Toba Samosir, Sajjad telah menunjukkan kecintaan mendalam pada Al-Quran. Ia rutin mengaji di masjid dekat rumahnya setiap hari, kecuali Kamis dan Sabtu. Di masjid itu, ia dibimbing oleh seorang ustaz bernama Lahmuddin Nasution. Kebiasaan ini terus ia jalankan dengan disiplin.

Baca Juga :  Kakan Kemenag Tanah Karo DR.H.Mustafid.MA.Minta Tambahan Kuota Haji

Yang membuat Sajjad berbeda adalah kecintaannya yang luar biasa terhadap Al-Quran, hingga ia selalu membawa mushaf ke mana pun, termasuk ke sekolah. Di sekolah, setelah selesai mengerjakan tugas di kelas, ia menyempatkan diri membaca Al-Quran di waktu luangnya. Kebiasaan ini tidak hanya dilakukan di kelas, tetapi juga saat jam istirahat.

Meski masih anak-anak, Sajjad mampu mengatur waktu dengan baik. Setelah menikmati bekal dan bermain bersama teman-temannya, ia selalu menyempatkan waktu untuk membaca Al-Quran. Setelah pulang sekolah, sembari menunggu kakaknya, Sajjad kerap duduk di pojok dan membaca Al-Quran sendirian. Kebiasaan ini tidak luput dari perhatian Husniaty Sitorus, salah satu gurunya di MIN Toba Samosir. Ia mengaku bangga melihat anak seusia Sajjad yang tidak hanya rajin membaca Al-Quran, tetapi juga pandai dan disiplin di kelas.

Baca Juga :  Polres Lhokseumawe Gelar Panen Raya Jagung Serentak Kuartal III Dukung Swasembada Pangan 2025

Saat ditanya mengapa ia begitu sering membaca Al-Qur’an, Sajjad hanya tersenyum dan melanjutkan bacaannya. Guru-guru menduga bahwa karena usianya yang masih kecil, Sajjad belum dapat mengungkapkan alasannya secara verbal. Namun, tindakannya sudah menunjukkan kecintaan mendalam terhadap kitab suci.

Kisah Sajjad menjadi teladan, tidak hanya bagi teman-temannya di sekolah, tetapi juga masyarakat sekitar. Orang tua Sajjad berhasil membuktikan bahwa nilai-nilai agama dapat tetap ditanamkan meski berada di lingkungan yang mayoritasnya berbeda keyakinan. Keluarga ini juga menjaga hubungan baik dengan tetangga mereka.
“Kami hidup rukun di sini, saling menghormati, dan tidak pernah ada masalah meski berbeda agama,” kata Ana Rasidah, ibunda Sajjad. Harmoni ini menjadi contoh bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk hidup berdampingan dengan damai.

Baca Juga :  Uskup Keuskupan Sibolga Bersama Rombongan Beraudiensi Dengan Bupati Nias

Kisah inspiratif Sajjad mengingatkan banyak orang tentang pentingnya pendidikan agama sejak dini. Keteladanan orang tua dan dedikasi Sajjad menunjukkan bahwa iman dan kecintaan terhadap Al-Quran mampu membawa perubahan positif di lingkungan sekitarnya.

Melalui kebiasaannya yang sederhana, Sajjad telah menjadi inspirasi bagi banyak orang. Ia membuktikan bahwa kesungguhan dalam menjalankan nilai-nilai agama dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Semoga semangat Sajjad terus tumbuh dan menjadi inspirasi yang lebih besar di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *