Medan – Lensabidik.Com
“Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik… Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu,” ucapnya lirih, Jumat (8/5/2026), seolah menegaskan getaran hati yang tak bisa disembunyikan.
Bagi Alfian Pinem SE, perjalanan menuju Baitullah bukanlah keputusan yang datang tiba-tiba. Ini adalah jawaban dari doa-doa kepada Allah setiap melaksanakan ibadah wajib maupun ibadah Sunnah yang sudah lama ia pendam. Keinginan untuk menunaikan rukun Islam kelima telah lama bersemayam dalam dirinya, namun baru tahun ini Allah mengizinkan langkahnya menuju baitullah bergabung di kloter 16.
“Sudah lama ada niat berhaji, tapi baru tahun ini bisa terlaksana. Semua karena izin Allah,” katanya dengan mata yang tampak berkaca.
Ia menyadari sepenuhnya, tak ada satu pun manusia yang mampu sampai ke Tanah Suci tanpa panggilan-Nya. Kesadaran itulah yang membuat perjalanan ini terasa begitu istimewa bukan sekadar ibadah, tetapi juga bentuk kasih sayang Allah itu nyata.
Di balik kebahagiaan itu, Alfian juga memikul tanggung jawab besar. Ia dipercaya sebagai Ketua Kloter 16 Embarkasi kelas 1 Medan sebuah amanah yang berat untuk membawa para calhaj yang berjumlah 360 calhaj ada dipundaknya, ada harapan ratusan jemaah yang akan ia dampingi selama menunaikan ibadah haji baik di Mekkah maupun nantinya di Madinah.
“Insya Allah, amanah ini akan saya jalankan sebaik-baiknya, dengan pelayanan yang tulus, ikhlas karna Allah . Semoga seluruh jemaah, khususnya Kloter 16, meraih haji mabrur dan hajjah mabruroh,” tuturnya penuh tekad.
Perjalanan hidup Alfian sendiri bukan tanpa liku. Ia mengawali karier sebagai aparatur sipil negara di Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tenggara selama satu dekade. Dedikasinya berlanjut di Kemenag Kota Medan selama tiga tahun, sebelum akhirnya mengabdi di Kanwil Kemenag Sumatera Utara selama 12 tahun. Kini, ia dipercaya sebagai Kepala Bagian Tata Usaha di Kanwil Kementerian Haji dan Umroh Sumut sebuah posisi yang lahir dari proses panjang dan pengabdian tanpa henti.
Namun, di balik jabatan dan pengalaman itu, Alfian tetaplah seorang hamba yang sederhana yang menunggu panggilan, memupuk harapan, dan akhirnya bersujud dalam syukur atas karunia Allah.
langkahnya semakin dekat ke Tanah Suci. Bersama jutaan umat Muslim dari seluruh penjuru dunia, ia akan berdiri di Padang Arafah, tempat di mana doa-doa melangit dan air mata mengalir tanpa sekat.
Di sanalah nanti, mungkin Alfian akan kembali mengulang kalimat yang sama bukan lagi dengan harap, tapi dengan penuh rasa syukur.semoga ini menjadi pengalaman perjalan yg abadi di sisi Allah SWT nantinya.beliau berharap kiranya rekan -rekan media Mendokan beliau agar tanggung jawab ini dapat ia laksanakan dengan baik dan sempurna.













